Setiap hari selama musim giling, truk-truk keluar dari area pabrik membawa blotong (ampas kotoran dari proses pemurnian nira) menuju lahan pertanian untuk dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pemandangan ini begitu rutin sehingga jarang dipertanyakan.
Namun ada satu pertanyaan yang seharusnya selalu diajukan oleh manajer produksi, seberapa basah blotong yang keluar hari ini?
Blotong yang basah bukan sekadar masalah volume limbah yang lebih besar. Di dalam kandungan cairannya, ada nira, dan di dalam nira, ada gula yang seharusnya bisa dipulihkan ke dalam produk akhir. Setiap gram nira yang ikut terbuang bersama blotong adalah kerugian nyata yang bisa dikuantifikasi, namun sering luput dari radar prioritas karena tidak tampak seperti kerusakan mesin yang berbunyi keras atau alarm yang menyala.
Akar masalahnya sering kali satu yaitu vacuum pump yang tidak lagi bekerja pada performa optimalnya.
Untuk memahami mengapa vacuum pump begitu penting, perlu dipahami terlebih dahulu apa yang terjadi di stasiun pemurnian.
Setelah ekstraksi di stasiun gilingan, nira mentah mengandung berbagai kotoran tanah, lilin, protein, dan senyawa organik lain yang harus dipisahkan sebelum nira masuk ke tahap penguapan. Proses pemurnian dilakukan dengan penambahan susu kapur dan gas SO₂ (metode sulfitasi) atau CO₂ (metode karbonatasi), yang mengendapkan kotoran-kotoran tersebut membentuk mud atau lumpur nira.
Lumpur nira inilah yang kemudian masuk ke Rotary Vacuum Filter (RVF) , sebuah drum silinder berlapis kain filter yang berputar perlahan di dalam bak berisi lumpur nira. Vakum dari dalam drum bekerja menarik nira bersih menembus kain filter ke dalam drum, sementara padatan kotoran tertahan di permukaan luar drum membentuk lapisan filter cake inilah yang disebut blotong.
(sumber : pexels.com)
Sistem ini menghasilkan dua output: nira tapis (filtrate) yang bersih kembali ke proses penguapan, dan blotong padat yang dibuang sebagai limbah. Output ideal yang diharapkan adalah nira tapis yang jernih dan blotong dengan kadar air dan nira serendah mungkin kondisi yang hanya bisa tercapai jika vakum bekerja dengan kuat dan stabil.
Baca Juga : Jenis Rotary Vacuum Pump dan Cara Kerjanya
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi (Politeknik Negeri Malang, 2023) secara langsung mengukur hubungan antara tekanan vakum RVF dan nilai %pol blotong di sebuah pabrik gula. Hasilnya sangat gamblang:¹
| Tekanan High Vakum RVF | %Pol Blotong |
|---|---|
| -20 cmHg (vakum lemah) | 3,97% |
| -30 cmHg (vakum sedang) | 3,14% |
| -40 cmHg (vakum optimal) | 1,78% |
Tekanan vakum optimal yang seharusnya dicapai RVF di pabrik gula adalah -40 cmHg hingga -45 cmHg, menghasilkan blotong dengan %pol antara 0,25–3%. Ketika tekanan vakum turun ke kisaran -20 hingga -30 cmHg akibat pompa yang sudah menua atau tidak terawat nilai %pol blotong melonjak melampaui 3%, artinya semakin banyak gula yang terbuang sia-sia bersama limbah.
Penelitian ini dilakukan terhadap kondisi nyata di lapangan pada pabrik gula yang pompanya diperkirakan berumur lebih dari 50 tahun, gambaran yang sangat relevan untuk mayoritas pabrik gula di Indonesia.
Baca Juga : Peran Vacuum Pump dalam Proses Dewatering Mengubah Lumpur Limbah Menjadi Padatan
(sumber : pexels.com)
Mari kita buat kalkulasi yang konkret.
Berdasarkan data lapangan, pabrik gula dengan kapasitas giling 3.000 TCD menghasilkan blotong sekitar 3,8% dari berat tebu, atau sekitar 114 ton blotong per hari.² Kenaikan 1% nilai %pol dalam blotong berarti ada sekitar 1,14 ton gula yang terbuang setiap hari.
Dengan harga gula kristal putih di kisaran Rp 12.000–14.000 per kg, selisih %pol blotong sebesar 2% (dari kondisi optimal 1,78% vs. kondisi vakum lemah 3,97%) berarti kehilangan sekitar 2,5 ton gula per hari, atau setara kerugian Rp 30–35 juta per hari.
Dalam satu musim giling 150 hari: potensi kerugian kumulatif Rp 4,5–5,2 miliar hanya dari satu titik penyebab yang sering tidak masuk dalam laporan kerugian harian.
Angka ini jauh melampaui biaya overhaul atau penggantian unit vacuum pump. Investasi untuk mempertahankan performa pompa bukan sekadar biaya perawatan, ini adalah keputusan finansial dengan ROI yang sangat jelas dan terukur.

Tidak semua jenis vacuum pump cocok untuk aplikasi RVF di pabrik gula. Liquid Ring Vacuum Pump (LRVP) telah menjadi pilihan standar industri karena beberapa alasan teknis yang sangat relevan:
Toleran terhadap campuran gas dan cairan. Nira yang terhisap dari RVF mengandung uap air dan partikel halus. Vacuum pump jenis kering (dry pump) sangat rentan terhadap carry-over cairan kondisi yang bisa merusak komponen internal dalam waktu singkat. LRVP, dengan prinsip cincin air (liquid ring) yang menjadi media sealing sekaligus pendingin, secara alamiah toleran terhadap kondisi ini.
Aliran hisap yang stabil. Prinsip positive displacement pada LRVP memastikan kapasitas hisap yang relatif konsisten krusial untuk menjaga stabilitas proses penyaringan di RVF yang beroperasi secara kontinu.
Konstruksi sederhana dan tahan kondisi proses kotor. LRVP memiliki komponen bergerak yang minimal (hanya impeller), menjadikannya lebih tahan terhadap kondisi operasi yang melibatkan cairan proses yang tidak selalu bersih.
Baca Juga : Vacuum Conveyor : Jenis, Fungsi dan Cara Merawatnya
Agar LRVP di stasiun RVF bekerja pada performa optimalnya, ada tiga parameter yang harus dipantau secara rutin:
Vacuum level aktual (cmHg). Ini adalah indikator paling langsung. Pasang vacuum gauge yang terkalibrasi di jalur hisap RVF dan catat pembacaannya secara berkala. Target: -40 hingga -45 cmHg. Jika angka ini terus merosot tanpa perubahan beban proses, ini sinyal pertama bahwa ada masalah pada pompa atau sistem pipa vakum.
Suhu seal water. Ini adalah titik kritis yang paling sering diabaikan. Suhu seal water yang masuk ke pompa harus dijaga di bawah 30°C. Setiap kenaikan suhu seal water akan menaikkan tekanan uap air di dalam pompa, yang langsung mengurangi vakum yang bisa dicapai. Masalah ini sangat umum terjadi di musim kemarau atau pada pabrik tanpa cooling tower yang memadai.
Ampere motor. Lonjakan ampere mengindikasikan beban mekanis berlebih bisa disebabkan oleh kavitasi, impeller yang aus tidak seimbang, atau bearing yang mulai rusak. Sebaliknya, ampere yang turun dari baseline bisa mengindikasikan impeller yang sudah sangat aus sehingga tidak lagi memindahkan fluida secara efektif.
Baca Juga : Cara Merawat Vacuum Pump Agar Awet dan Optimal
Sebelum %pol blotong naik signifikan dan kerugian sudah terakumulasi, biasanya ada tanda-tanda yang lebih awal muncul di lapangan:
Setiap gejala ini adalah sinyal untuk segera melakukan audit, bukan menunggu hingga pompa benar-benar mati.
Baca Juga : Gejala Umum Kerusakan Vacuum Pump yang Harus Diwaspadai
Ketika performa pompa sudah mulai menunjukkan gejala penurunan, ada dua jalur tindakan yang bisa diambil berdasarkan hasil audit:
Idealnya, audit dilakukan 6–8 minggu sebelum musim giling dimulai — memberi ruang waktu yang cukup untuk pengadaan unit pengganti tanpa tekanan jadwal.
Baca Juga : Pentingnya Preventive Maintenance Unit Vacuum
Ingin menekan angka sugar loss di stasiun pemurnian? Langkah pertama adalah memastikan vacuum pump di RVF Anda bekerja pada tekanan yang seharusnya.
PT Intidaya Dinamika Sejati menyediakan Vacuum Pump Becker merek asal Jerman dengan reputasi keandalan dalam aplikasi industri proses, termasuk untuk sistem RVF di pabrik gula. Tersedia dalam konfigurasi yang sesuai untuk tuntutan operasi kontinu musim giling, dengan dukungan spare part dan layanan purna jual yang memadai.
Kami melayani kebutuhan audit unit, konsultasi spesifikasi, hingga pengadaan unit baru untuk pabrik gula di seluruh sentra produksi Indonesia:
Hubungi kami sekarang untuk audit unit atau pengadaan unit baru yang lebih efisien dengan Becker Pump yang sudah teruji kualitasnya. Jangan biarkan pompa yang sudah menua terus menggerus rendemen Anda diam-diam setiap hari.
¹ Fadhilah, A.I. & Ariani, A. (2023). Analisis Pengaruh Tekanan Vakum pada Rotary Vacuum Filter (RVF) terhadap %Pol Blotong. DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi, 9(4), 453–459. Politeknik Negeri Malang — tekanan high vakum optimum RVF adalah -40 cmHg hingga -45 cmHg menghasilkan %pol blotong 0,25–3%; penurunan vakum ke -20 cmHg menyebabkan %pol blotong melonjak hingga 3,97%.
² Jurnal Teknik Pertanian dan Biosistem, Universitas Brawijaya / Instiper Yogyakarta (2022) — PG PT. SMS–Samora Group dengan kapasitas giling 3.000 ton per hari menghasilkan blotong sebanyak 3,8% dari berat tebu, atau sekitar 114 ton blotong per hari.
³ Kementerian Perindustrian RI (2021), dikutip dalam jurnal DISTILAT (2023) — produksi gula nasional sebesar 2,35 juta ton, dengan pabrik gula BUMN menghasilkan 1,06 juta ton dan swasta 1,29 juta ton; efisiensi stasiun pemurnian menjadi salah satu faktor kritis yang mempengaruhi kapasitas produksi GKP.